Langsung ke konten utama

Maafkan Kami, Ramadhan


Maafkan Kami, Ramadhan...
Mestinya kami bahagia menyambut datangmu...
Tapi nyatanya banyak dari kami yang justru gundah dengan harga-harga yang makin melambung menjelang hadirmu...


Maafkan kami, Ramadhan...
Harusnya untuk sambutmu kami siapkan suci ruhani kami...
Tapi ternyata kami belum bebas dari maksiat sampai kini...

Maafkan kami, Ramadhan...
Mestinya kau peroleh tempat dihati ini...
Namun seringnya kami hanya tempatkanmu di meja makan selepas senja dan dini hari...

Maafkan kami, Ramadhan...
Berbilang jumlah kami jumpa denganmu...
Namun tak berbekas sama sekali setelah tinggalkanmu...

Maafkan Kami, Ramadhan...
Izinkanlah, kami bersua denganmu sekali lagi...
Izinkanlah, kami bertemu denganmu meski untuk yang terakhir kali...




gambar dari sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang-Orang Romantis

ilustrasi:fiksi.kompasiana.com Aku selalu kagum pada mereka: orang-orang romantis. Mereka selalu bekerja dengan sepenuh cinta. Dengan segenap kesadaran. Boleh jadi mereka berpeluh, tapi pantang mengeluh. Memang mereka lelah, tapi tak kenal patah. Dan sesekali mereka berhenti, untuk sekedar menyeka keringat. Untuk sekedar menutup luka. lalu dengan nanar mereka menengadah menatap langit. seketika itu mereka teringat akan tujuan mereka, Cita-cita dan mimpi-mimpi mereka. saat itulah kerinduan mereka mendayu-dayu. menyala-nyala. Tapi mereka tidak terbuai, setelah itu mereka segera menggulung kembali lengan bajunya untuk meneruskan langkah yang sempat tertunda..... Senja, 17 Januari 2012     Pendaki Langit

Cinta, Bukan Untuk Canda

“Sebab bagi kami, para pemuda, Lidah Adalah Setengah dari Harga Diri!” Hari Itu hari Jum’at. Hari yang tepat untuk suatu kegiatan  yang mesti menguras energi hari itu: Ujian Praktikum Salah Satu Mata Kuliah di Departemen Akuakultur. Saya awali pagi itu dengan penuh optimisme, Bahwa ujian kali ini akan baik-baik saja. Terlepas dari persiapan yang memang seadanya. Penyebab optimisme hari ini sederhana saja, yaitu mentari yang cerah terbit di ufuk. Mentari melambangkan optimisme sebab ia hadir setelah gelap yang panjang. Ia muncul dengan hangatnya setelah malam yang begitu dingin. Mentari memang menginspirasi.

Terimakasih, Bu Menkes....

Untuk Ibu Menteri Kesehatan, Ibu Dr. Nafsiah Mboi, SpA, M.P.H., Kami ucapkan terimakasih banyak, sebanyak(maaf) kondom yang Ibu bagi-bagi... Terimakasih, Bu menkes. Terimakasih karena telah ajarkan pada kami bahwa anak gadis boleh dinodai, asalkan pakai cara yang “hati-hati”... Terimakasih, Bu Menkes. Terimakasih sebab telah beritahu kami, termasuk anak remaja kami, cara dapatkan alat kontrasepsi tanpa harus susah-susah membeli... Terimakasih, Bu Menkes. Sekali lagi terimakasih atas kontribusi dan kerja kerasnya dalam meningkatkan angka prostitusi dalam negeri....