Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Serial Perjalanan

Hikmah di Al Hikmah

Setiap orang punya cerita. Dan setiap cerita pasti ada hikmah yang barangkali terselip didalamnya atau tertindih dibawahnya. Segelap apapun cerita di laut dalam, mesti ada satu dua mutiara. Dan izinkanlah kawan, kali ini saja saya bercerita. Bukan apa-apa, hanya ingin berbagi. Tentu saja lain waktu kami juga ingin mendengar ceritamu. Dan kami akan berusaha menjadi sebaik-baik pendengar.             Cerita ini memang tidak seheboh kisah Ramayana. Tidak se- mellow Kisah Zainuddin dan Hayati di Roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk . Atau tidak juga se-keren Catatan Si Boy. Hanya kisah sederhana yang dialami. Bagaimanapun juga ini kenang-kenangan hidup yang sayang rasanya jika harus dilupakan begitu saja.

Kukembalikan Pulpenmu

Kau tahu, apa yang membuatku takkan pernah lupa padamu? mungkin kau lupa, tapi aku akan selalu ingat itu. Adalah 13 tahun lalu, saat seisi kelas sibuk menulis dan aku hanya diam. Kau yang tak pernah kukenal sebelumnya, mulai curiga saat itu. "hey kamu, kenapa kamu tidak menulis? " tanyamu membuyarkan lamunanku. " Aku tidak punya pulpen" , jawabku datar. lalu sambil tersenyum kau berikan sebatang pul pen padaku. Akupun tersenyum, tapi tetap tak sesempurna senyummu. malah terlihat sangat kaku. . . .

Buat Ananda

Dakilah gunung tinggi manapun yang ananda damba: Mahameru, Kalimanjaro, atau Himalaya. Sampai suatu saat, ananda kan temukan puncak tertinggi itu justru saat kening ananda menyentuh tanah tempat kaki ananda berpijak, meski itu tempat paling rendah di muka bumi...

Maafkan Kami, Ramadhan

Maafkan Kami, Ramadhan... Mestinya kami bahagia menyambut datangmu... Tapi nyatanya banyak dari kami yang justru gundah dengan harga-harga yang makin melambung menjelang hadirmu...

Cara Kita Membaca BBM

"Semoga saja kemampuan kita membaca realita adalah tidak lebih rendah dari kemampuan kita membaca berita atau buku cerita..." Semenjak mendengar kabar tadi malam tentang harga BBM yang jadi naik. Seperti yang diberitakan Republika (17/6), Paripurna DPR sahkan RUU APBN Perubahan Lewat Voting. Artinya BBM sudah dipastikan naik. Saya jadi tak berselera lagi -yang memang sebelumnya juga sudah tidak ada- untuk membaca slide-slide dan diktat kuliah itu. Padahal pekan ini adalah pekan ujian, yang katanya berpengaruh hidup-mati bagi mahasiswa. Diktat-diktat itu berisi teori-teori yang tidak terlalu jelas kemana muaranya. Tidak terlalu jelas bagaimana penerapannya. Hanya sebagai syarat mendapat huruf-huruf mutu itu yang katanya akan berguna saat kita mencari kerja. Ia aja deh .

Aku dan Ibuku Pada Suatu Hari

“aku ingat betul. Pernah Kau kecup keningku disaat pagi. Meluruskan kerah bajuku yang lusuh. Menjahit kantong bajuku yang koyak tanpa kutahu. Ajariku hingga mampu berdiri tegak. Hingga mampu berjalan tegap. Lalu, kau minta aku pergi kejar cita hingga sampai di ujung samudera. Hingga aku melangkah kian jauh. Berderap hingga peluh. Tapi Kau tak pernah ingatkanku untuk berhenti. Tak pernah beritahuku sampai kapan mesti berlari. bahkan tak pernah tunjukanku jalan kembali. Padahal, ini pertama kalinya aku ingin pulang.......”  Pada suatu hari, aku menangis untuk pertamakalinya. Lalu ibuku memberiku nama Syubhan Triyatna. Siapapun tidak tahu apa arti dari kata Syubhan, bahkan ibuku sendiri. Mungkin Ibuku ingin agar aku sendirilah yang memberi arti pada nama itu. Tentang triyatna, Tri artinya 3, aku adalah anak ke 3. Kalau Yatna diambil dari nama tetangga. Tapi jangan buruk sangka dulu. Itu karena tetanggaku dulu adalah orang paling terpandang sekampung: Bapak Yayat SupriYATNA. Belia...

Estafet

gambar dari: anneahira.com Tongkat itu, sejak dulu, selalu terestafet dari tangan ke tangan. dari masa ke masa. basah dilumuri peluh,darah dan air mata. Tongkat itu memang berat. Terlalu berat. Jika kau mengambil tongkat itu, kau harus berlari sekuat mampumu. Sepanjang terik siang. Sepanjang gigil malam. Meski dibawah deras hujan. Walau Dihempas angin badai. Mungkin karena itulah, kini tongkat itu terjatuh tergeletak begitu saja. Tanpa ada orang yang peduli memungutnya.  Kau yang sedang duduk-duduk disitu, Bangunlah! dan ambillah tongkat itu!  Jika kau tak juga mau mengambil tongkat itu, Biarlah aku yang memungutnya!  Meski dengan langkah gontai dan kaki penuh luka sembilu...

Adanya Genap, Tiadanya Ganjil

Kalau kita jeli memperhatikan sekeliling kita, kita akan mendapatkan fenomena unik. Bahwa ada orang-orang yang kehadirannya senantiasa dinanti dan kepergiannya di tangisi. Ada lagi golongan orang-orang yang kehadirannya malah dihindari dan kepergiannya justru disyukuri. Pun, ada juga orang-orang yang kehadiran atau ketiadaanya sama saja: adanya tidak menggenapkan, perginya tidak mengganjilkan.

Cinta, Bukan Untuk Canda

“Sebab bagi kami, para pemuda, Lidah Adalah Setengah dari Harga Diri!” Hari Itu hari Jum’at. Hari yang tepat untuk suatu kegiatan  yang mesti menguras energi hari itu: Ujian Praktikum Salah Satu Mata Kuliah di Departemen Akuakultur. Saya awali pagi itu dengan penuh optimisme, Bahwa ujian kali ini akan baik-baik saja. Terlepas dari persiapan yang memang seadanya. Penyebab optimisme hari ini sederhana saja, yaitu mentari yang cerah terbit di ufuk. Mentari melambangkan optimisme sebab ia hadir setelah gelap yang panjang. Ia muncul dengan hangatnya setelah malam yang begitu dingin. Mentari memang menginspirasi.

Yang Kita Mau dan Tidak Mau

Ada satu pelajaran berharga di hari ini. Pagi tadi, pukul 7 di Ruang kuliah. Tiba-tiba dosen masuk. Salam. lalu langsung bertanya pada saya yang kebetulan duduk paling depan. "Kamu, yang pakai baju kotak-kotak, siapa namamu?"

Sama

Kau salah,kawan! kau salah! wahai engkau yang bernyanyi demi keping-keping rupiah. Kau salah. Kau kata kita ini berbeda, saat kau peluk erat gitar tua dari bus ke bus kota. Dan aku cengkram pena dari kertas hingga pustaka. Kita sama, Kawan! tak ada beda! maka tegakkan lagi kepalamu! Junjung lagi harga dirimu! kita hidup dibawah langit yang sama biru. Di atas tanah yang sama kelabu. Di antara teduh naungan Tuhan yang sama satu. Jangan lagi kau bernyanyi pilu seperti itu. Seakan Tuhanlah yang sengaja ciptakan derita untukmu. Sekali lagi, Kau salah kawan! Kita tak beda, kita sama! yang jadi beda hanya hal yang satu, dan itu hanya Tuhan kita yang tahu... "....Sesungguhnya orang yang paling mulia diantaramu disisi Allah ialah yang paling bertakwa.."-Q.S. Al Hujurat:13-

Takbir

Takbir Adalah angin yang gerakkan amuk  ombak. Mengarus menerjang karang. Atau bahkan berubah bak tsunami, menghantam semua kedzaliman di hadapnya. Menggerus semua keangkuhan. Maka jika ia telah menggelombang, jangan pernah kau coba-coba halangi jalannya. Biarkan ia lewat. Karena Ia akan jadi kekuatan angkara murka yang akan lumat seluruh kemungkaran.

Tak Semestinya

gambar dari nasyidmadany.wodpress.com Tak semestinya sepanjang perjalanan, sejauh lintasan kita terus berlari. Menerobos semak. Menantang angin. ada jenak-jenak dimana kita mesti berhenti sejenak. menghela nafas. Menengok kebelakang. Mungkin kita terlalu jauh berlari. Atau menyimpang dari jalur seharusnya. Karena berhenti bukanlah berarti menyerah, tapi mengumpulkan energi untuk berlari lebih jauh lagi.

Untuk Divisi Pangan

Memang begitulah adanya. Sepanjang sejarahnya, manusia selalu melemparkan pertanyaan-pertanyaan tentang hidupnya yang tentu menuntut jawaban secepatnya. Meski seringkali jawaban-jawaban itu hadir di bukan di awal pagi, tapi di menjelang senja hari. Saat kita sudah mulai berfikir bahwa tidak ada jawaban atas petanyaan-pertanyaan kita. Yang mesti kita yakini adalah bahwa selalau ada jawaban atas setiap pertanyaan. Ibarat dua keping mata uang, itulah hidup. Ada siang pun ada malam. Ada purnama, ada pula gerhana. Ada air mata, pun kadang hadir canda tawa. Ada Temu pasti ada berpisah. Ada pertanyaan, Pasti Tuhan telah sediakan jawaban. Maka mengertilah kita tentang satu nasihat lama ini: "Selalu ada hikmah di setiap sesuatu". Seperti pertanyaan-pertanyaan "nakal" kita dahulu. Mengapa aku dilahirkan di tanah ini di keluarga ini? mengapa aku harus mengalami ini semua? bertemu dengan orang ini dan itu? dan seterusnya dan seterusnya. Yakinlah, kau akan temukan jawaban...

Universitas Ramadhan

Dan Rasullullahpun berdoa “Ya Allah, berkahilan kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta pertemukanlah kami dengan Ramadhan” –HR Baihaqi- Sebagaimana kita perhatikan akhir-akhir ini. Banyak lulusan SMA dan sederajat berbondong-bondong bahkan berdesak-desak untuk mengikuti SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) awal Juni lalu. Padahal,Hanya sekitar 19% dari mereka yang bisa di tampung perguruan tinggi. Tapi Banyak dari mereka yang mempersiapkan “mati-matian” sejak setahun yang lalu. Mengikuti bimbel dengan harga selangit demi diterima masuk di Universitas Favorit. Pun banyak yang mempersiapkan dana puluhan juta bahkan ada yang sampai ratusan untuk membayar biaya masuk universitas favorit itu. Sejak jauh-jauh hari mereka telah menabung sebagai persiapan materi untuk memasuki Universitas. Tak sedikit juga dari mereka yang sampai jual sawah atau kendaraannya agar anaknya bisa masuk universitas. Sungguh persiapan yang tidak main-main.

3 Kaidah Cinta

gambar; alakadarnya.net Laiknya Muhammad dan Aisyah-nya, atau Sayyidina Ali dan Fathimah-nya, atau Bilal dan Adzannya, atau Al-Banna dan dakwahnya, atau Khalid dan Pedangnya, atau Ibrahim dan Ismail-ya, atau bunda dan anak-anaknya. Semuanya mengajarkan sebuah kaidah yang darinyalah kita belajar mengeja kata itu: cinta.

Menyalip Zaman

ilustrasi:anomph.blogdetik.com Zaman bergerak terlalu cepat. Hingga kita tidak sadar telah tertinggal jauh. Pikiran-pikiran kita masih saja yang dulu. Kini berbeda. Kini tak sama. Kita kehilangan sadar akan waktu yang bergulir. Kehilangan pijak akan masa. Kita masih saja termenung di persimpangan. Bingung. Sementara zaman telah berlari kian jauh. Kita tertinggal.

Egaliter

ilustrasi: nidyosasongko.blogspot.com Janganlah kau berjalan di belakangku Mungkin aku tak mampu memimpin jangan pula kau berjalan di depanku mungkin aku tak sanggup mengikuti tapi, berjalanlah seiring denganku Dan mari bersama tapaki jalan itu ... Ini tentang suasana egaliter yang ingin dibangun disini. Adalah kita bisa saling nasihat-menasihati sepanjang jalan ini. Adalah kritik yang mengalir tanpa ada ragu kalau-kalau si obyek kritik tersinggung sakit hati. adalah kau, aku, dia dan kita. Bisa saling berbagi kritik seperti berbagi obat untuk si sakit. meski pahit, memang. Tapi akan lebih pahit lagi jika borok di punggungmu kau ketahui setelah lebar berbau. Padahal kawanmu melihatnya setiap hari tapi enggan memberitahumu karena takut kau malu atau marah. Maka, Nasihat dan kritik adalah bukan pilih-mu tapi wajibmu. untuk ku, untuknya, dan untuk kita.

Episode Pelantikan

Sepagi ini, Pukul 7.00 harusnya Musyawarah kerja dimulai. Namun karena berbagai kendala Baru pukul 7.25 dibuka(?). Bertempat di Ruang Asma Masjid Al Hurriyyah acara dibuka dengan khidmat oleh Akh Mirza. Diawali merdu alunan Qur’an yang dibawakan Akh Amroyan. Dilanjutkan dengan Presentasi program Ketua setiap departemen di Ruang Sidang 2 Masjid Al Hurriyyah. Ya, ruangan berpindah dan saya tidak tahu alasannya. Tak apa. Al-akh Agit Supriyadi. Komandan Departemen Tahsin ini yang pertama presentasi. Diawali dan diakhiri dengan pantun menjadikan suasana mengalir tanpa ketegangan. Akh Agit mengulas banyak hal tentang perjalanan tahsin 1 tahun ke depan: Open Recruitment , KBM, sampai mekanisme ujian. Detail sekali. Saya kagum dibuatnya.

MPKMB: Sehangat Cinta Anshar Sambut Muhajirin

Lelaki itu penuh peluh kala masuki kota yang benar-benar asing baginya: Madinah. Sebenarnya Ia kaya dan terpandang, hanya saja Iman membuatnya memilih hijrah dengan segala resiko dan peluangnya. Dengan tampilan compang-camping sampailah Ia di Madinah. Oh iya , lelaki ini bernama Abdurahman Ibn Auf, salah seorang muhajirin yang sudah di-tag-kan satu tempat di syurga. Kabar baiknya lagi, Ia disambut oleh seorang anshar: Sa'ad Ibn Ar Rabi. Saking kuatnya ukhuwah, Sa'ad berkata pada Abdurrahman, " Akhi , saya punya 2 orang istri, pilihlah yang kau suka, nanti akan saya ceraikan lalu setelah idahnya habis, silahkan nikahi. Tentang harta saya, akan saya bagi denganmu, Fifty-fifty. Saya yakin kau amat butuh." Dan Jawaban Abdurahman sesaat lagi adalah jawaban yang menyejarah hingga kini, " Jazaakalloh , semoga Allah memberkahi hartamu. Tunjuki saja dimana letak pasar!", jawabnya sepenuh harga diri.