Langsung ke konten utama

Kukembalikan Pulpenmu

Kau tahu, apa yang membuatku takkan pernah lupa padamu? mungkin kau lupa, tapi aku akan selalu ingat itu. Adalah 13 tahun lalu, saat seisi kelas sibuk menulis dan aku hanya diam. Kau yang tak pernah kukenal sebelumnya, mulai curiga saat itu.

"hey kamu, kenapa kamu tidak menulis?" tanyamu membuyarkan lamunanku.

"Aku tidak punya pulpen", jawabku datar.

lalu sambil tersenyum kau berikan sebatang pulpen padaku. Akupun tersenyum, tapi tetap tak sesempurna senyummu. malah terlihat sangat kaku.

. . .


"Ini aku kembalikan pulpenmu", sambil aku sodorkan pulpen itu di akhir kelas dengan sikap yang agak aneh.

"Pulpen itu kamu simpan saja, untukmu.." tetap dengan senyummu yang lagi-lagi, mengembang tulus. 

tanpa kusadari, Itulah tahun terakhir aku melihatmu. Tanpa sempat aku berterimakasih. Lalu selama 13 tahun aku tidak pernah lagi melihat senyummu.

. . .

Kalau saja kita bertemu lagi. Bukan apa-apa, aku hanya ingin mengembalikan pulpenmu -meski sudah hilang- dan tentunya, mengucapkan terimakasih yang saat itu belum sempat -atau mungkin lupa- mengatakannya padamu....
*gambar dari sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang-Orang Romantis

ilustrasi:fiksi.kompasiana.com Aku selalu kagum pada mereka: orang-orang romantis. Mereka selalu bekerja dengan sepenuh cinta. Dengan segenap kesadaran. Boleh jadi mereka berpeluh, tapi pantang mengeluh. Memang mereka lelah, tapi tak kenal patah. Dan sesekali mereka berhenti, untuk sekedar menyeka keringat. Untuk sekedar menutup luka. lalu dengan nanar mereka menengadah menatap langit. seketika itu mereka teringat akan tujuan mereka, Cita-cita dan mimpi-mimpi mereka. saat itulah kerinduan mereka mendayu-dayu. menyala-nyala. Tapi mereka tidak terbuai, setelah itu mereka segera menggulung kembali lengan bajunya untuk meneruskan langkah yang sempat tertunda..... Senja, 17 Januari 2012     Pendaki Langit

Cinta, Bukan Untuk Canda

“Sebab bagi kami, para pemuda, Lidah Adalah Setengah dari Harga Diri!” Hari Itu hari Jum’at. Hari yang tepat untuk suatu kegiatan  yang mesti menguras energi hari itu: Ujian Praktikum Salah Satu Mata Kuliah di Departemen Akuakultur. Saya awali pagi itu dengan penuh optimisme, Bahwa ujian kali ini akan baik-baik saja. Terlepas dari persiapan yang memang seadanya. Penyebab optimisme hari ini sederhana saja, yaitu mentari yang cerah terbit di ufuk. Mentari melambangkan optimisme sebab ia hadir setelah gelap yang panjang. Ia muncul dengan hangatnya setelah malam yang begitu dingin. Mentari memang menginspirasi.

Cara Kita Membaca BBM

"Semoga saja kemampuan kita membaca realita adalah tidak lebih rendah dari kemampuan kita membaca berita atau buku cerita..." Semenjak mendengar kabar tadi malam tentang harga BBM yang jadi naik. Seperti yang diberitakan Republika (17/6), Paripurna DPR sahkan RUU APBN Perubahan Lewat Voting. Artinya BBM sudah dipastikan naik. Saya jadi tak berselera lagi -yang memang sebelumnya juga sudah tidak ada- untuk membaca slide-slide dan diktat kuliah itu. Padahal pekan ini adalah pekan ujian, yang katanya berpengaruh hidup-mati bagi mahasiswa. Diktat-diktat itu berisi teori-teori yang tidak terlalu jelas kemana muaranya. Tidak terlalu jelas bagaimana penerapannya. Hanya sebagai syarat mendapat huruf-huruf mutu itu yang katanya akan berguna saat kita mencari kerja. Ia aja deh .