Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Serial Tafakur

Aku Bosan Baca Qur’an!

Entah mengapa seringkali aku begitu emosional. Sehingga nalar kadang tak pernah dipertimbangkan. Begitupun saat kubuka Buku itu: Al Qur’an, untuk yang sekian kalinya. Bahkan akupun lupa sudah berapa kali aku menghatamkannya. Atau belum sama sekali jangan-jangan. Ramadhan-ramadhan kulalui bersamanya dengan bahagia tanpa kutahu kitab apa sebenarnya yang ku baca. Apakah ia buku sains, sejarah, atau kitab hukum. Entahlah. Semuanya mengalir begitu saja. Semenjak dulu di surau dengan nyala lampu redup aku membacanya penuh syahdu sekaligus rindu akan terulangnya kembali waktu itu. Barangkali itu adalah episode terbaik dalam serial hidupku. Kubaca ayat demi ayat tanpa mengerti betul apa yang aku baca selama ini. Tanpa faham benar seberapa dahsyat ayat-ayat itu. Aku hanya membacanya bak rutinitas. Hingga aku sampai pada satu sore dimana aku merasa ada yang aneh dengan perasaanku saat menyentuhnya. Perasaan yang sama sekali berbeda dengan saat-saat sebelumnya. Aku tak tahu harus ...

Antara Sekolah dan Realitas

gambar dari republika.co.id Entah siapa yang bilang bahwa Ibu adalah madrasah pertama seorang manusia. Ada benarnya kalau Ibu disini bukanlah Ibu Karir jaman sekarang. Juga kalau seorang Ibu benar-benar faham metode mendidik anak yang benar. Pernyataan tadi juga benar jika dikaji dari sudut pandang sejarah. Bahwa Ibu adalah institusi pendidikan pertama yang didirikan sebelum kampus-kampus yang sekarang menjamur ini.

Terimakasih, Bu Menkes....

Untuk Ibu Menteri Kesehatan, Ibu Dr. Nafsiah Mboi, SpA, M.P.H., Kami ucapkan terimakasih banyak, sebanyak(maaf) kondom yang Ibu bagi-bagi... Terimakasih, Bu menkes. Terimakasih karena telah ajarkan pada kami bahwa anak gadis boleh dinodai, asalkan pakai cara yang “hati-hati”... Terimakasih, Bu Menkes. Terimakasih sebab telah beritahu kami, termasuk anak remaja kami, cara dapatkan alat kontrasepsi tanpa harus susah-susah membeli... Terimakasih, Bu Menkes. Sekali lagi terimakasih atas kontribusi dan kerja kerasnya dalam meningkatkan angka prostitusi dalam negeri....

Mesir dan Tugas Sejarah

“Lebih baik aku mati kau bunuh” Kata Presiden Mesir terpilih, Dr. Mursi dengan mata nanar sebelum ditangkap militer Mesir,”Dari pada aku mundur lalu disalahkan sejarah!”. Satu lagi kita faham tabiat sejarah. Hukum sejarah. Setelah kita mengerti bahwa sejarah sebagaimana peradaban memiliki masa lahir, tumbuh, jaya, kemudian mati seperti yang dikatakan Bapak Sejarah kita, Ibnu Khaldun. Akhirya, melalui tragedi merah di Mesir saat ini kita faham akan satu lagi hukum sejarah bahwa sejarah selalu memberikan tugas-tugasnya secara unik dan berbeda sama sekali kepada setiap generasi. Setiap generasi diberi tugas khusus yang mesti diselesaikan dengan baik agar generasi selanjutnya tidak lagi memikul tugas yang belum diselesaikan generasi sebelumnya. Dari tugas itu lalu dirinci kembali kepada misi-misi yang mesti dilaksanakan secara berbeda oleh setiap individu. Jadi sebenarnya setiap individu dalam satu generasi memiliki misi spesifik yang jika misi itu diselesaikan dengan baik a...

Cantik Sih, Tapi Rela Bagi-Bagi?

Mohon maaf sebelumnya apabila ada yang kurang berkenan dengan tulisan kali ini. Saya hanya beberapa waktu belakangan ini agak takut membuka facebook sebab beberapa saudari kita memajang foto yang close up keterlaluan. Entah karena narsis atau memang hobi saya tak faham. Hanya saja saya agak risih dan tentu banyak lelaki lainnya. Mungkin ada yang menikmati, mereka itulah lelaki-lelaki bermata belang. Dulu hidung, sekarang mata ikut-ikutan. Baik, katakanlah 112 orang nge” like ” fotonya. Terus kemudian merasa cantiklah ia bagai Cleopatra. Cantik menurut siapa dulu, kalau menurut lelaki bermata belang mungkin ia. Oleh karena itu mari mendefinisikan kembali cantik itu apa.

Redefening Succes

Kalau yang kau maksud sukses adalah berlimpahnya harta berbenda, maka mungkin orang tersukses adalah Carlos Slim yang kekayaannya sampai 73 Triliun dollar AS atau pendahulunya Korun yang tak terhitung lagi perak emasnya...

Bangsa Besar

Jangan bercanda, Kawan. Bangsa ini terlalu besar untuk bisa diurus oleh satu-dua kepala, satu-dua warna bendera. Tapi nantikanlah suatu masa saat putera-putera kandung negeri ini mulai tahu cara paling tepat untuk mengurus Negeri ini. Saat itulah akan muncul badai yang lebih tinggi dari Tsunami dan siap menenggelamkan dunia ini dalam kedamaian. Akan hadir khafilah perubahan yang siap menyapu setiap bajingan dan para bedebah, mencopot topeng manis mereka sampai ke urat-urat wajahnya. Dan Yang mesti kita yakini hari ini adalah bahwa kitalah yang paling berhak mewarisi kepemimpinan Peradaban ini! “ Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi,..." {QS An Nuur:55} AllahuAkbar!! AllahuAkbar!!! AllahuAkbar!!!! *gambar dari Republika

Ramadhan, Bulan Kemerdekaan

“Visi Ramadhan:...La’allakum tattaquun, agar kamu bertakwa. Dan Takwa adalah kata lain dari merdeka". Ramadhan adalah medan perang untuk meraih sebuah kemerdekaan hakiki. Ramadhan adalah sebuah padang dimana kita bertempur begitu sengit dengan diri kita sendiri. Adalah sebuah laga dimana kita bertempur habis-habisan. Mempertaruhkan apa-apa yang kita punya. Berat memang. Tapi ini demi satu tujuan: Merdeka. Merdeka atas akal dan pemikiran kita. Merdeka atas hati dan perasaan kita. Dan merdeka atas raga dan sikap kita. Sebagian orang mengatakan bahwa merdeka adalah kebebasan. Dimana setiap orang bebas melakukan apa saja menurut kehendaknya pribadi. Bebas   memikirkan apa saja. Bebas mengikuti faham apa saja sekehendaknya. Bebas merasakan kesenangan apa saja yang diinginkannya. Maka lahirlah budaya hedonisme, permisivisme dan isme-isme yang lainnya. Padahal sebenarnya itu semua adalah sebuah kolonialisme. Penjajahan nafsu atas diri kita sendiri. Kita jadi budak dan nafsulah ...

Selamat Ramadhan

Selamat Ramadhan, Mentari.. Semoga di hari-hari nanti, Cahyamu bisa lebih terang lagi di gelap hati-hati kami...

Cara Kita Membaca BBM

"Semoga saja kemampuan kita membaca realita adalah tidak lebih rendah dari kemampuan kita membaca berita atau buku cerita..." Semenjak mendengar kabar tadi malam tentang harga BBM yang jadi naik. Seperti yang diberitakan Republika (17/6), Paripurna DPR sahkan RUU APBN Perubahan Lewat Voting. Artinya BBM sudah dipastikan naik. Saya jadi tak berselera lagi -yang memang sebelumnya juga sudah tidak ada- untuk membaca slide-slide dan diktat kuliah itu. Padahal pekan ini adalah pekan ujian, yang katanya berpengaruh hidup-mati bagi mahasiswa. Diktat-diktat itu berisi teori-teori yang tidak terlalu jelas kemana muaranya. Tidak terlalu jelas bagaimana penerapannya. Hanya sebagai syarat mendapat huruf-huruf mutu itu yang katanya akan berguna saat kita mencari kerja. Ia aja deh .

Lelaki-lelaki Kurus

“ada orang-orang yang membiarkan kurus  tubuhnya demi untuk membesarkan jiwanya” Ia memang terkungkung dalam sel penjara. Tapi itu hanya raganya. Hanya Tubuhnya. Namun buah pikirannya melanglang buana lintasi benua. Sebrangi samudera. Maka sampailah tulisan-tulisannya di India. Dari sel sempit dimesir, buah pikirannya terbang dan sampailah di syaikh itu, Syaikh Hasan An Nadwi. An Nadwi pun terpukau. Membaca tulisan-tulisan itu, yang kuat gagasannya, utuh pemikirannya. Keras namun penuh kelembutan hati. Tulisan itu bergetar. Berruh sekaligus. Ia terpana. tak salahlah, jika kemudian, An Nadwi berpikir bahwa sang penulis ini bertubuh gagah, kekar seperti tulisan-tulisannya yang memang bergagasan kuat dan utuh. Dan tatkala An Nadwi berkesempatan mengunjungi mesir. Terkejutlah ia. Ternyata si empunya gagasan tidak seperti yang ia pikirkan: kekar, gagah, rupawan. Yang ada dihadapannya kini adalah lelaki kurus, ringkih, ceking, sama sekali tidak kekar. Ia adalah Sayyid Qutbh. Tapi ...

Redefining Ukhuwah

"Sebab ukhuwah bukanlah menyatukan Puzzle-puzzle menjadi susunan yang utuh. Bukan pula menempel kertas demi kertas  menjadi layang-layang. Tapi adalah dengan jarum, menjahit kain demi kain perca menjadi sebuah busana berkilau cahaya..." Bersiaplah kecewa bagi ia yang mengira bahwa ukhuwah ini selamanya indah. Saling memahami. Saling mendahulukan. Saling mencintai. Saling memberi. Bersiaplah sakit hati bagi ia yang berharap ukhuwah selamanya madu murni. Tanpa pahit. Seluruhnya manis. Memang benar ukhuwah itu indah. Manis. Namun tidak selamanya.  Namun itu idealnya. Dan kita bukanlah manusia-manusia ideal dalam suatu tempat dan waktu yang ideal. Maka saat ini bersikap realistis sangat diperlukan. Seperti kata banyak orang, kita bukanlah kumpulan para malaikat. Maka dari itu mari mendefinisikan kembali makna dari ukhuwah kita. Kadang kita terbuai dengan kisah Saad Bin Ar Rabi yang asli penduduk pribumi madinah kala itu yang dengan begitu murah hati membagi miliknya ...

Ekonomi Kata

"Ternyata Berbicara bukanlah sekedar menggerakan bibir dan lidah saja" Tiba-tiba saja muncul sebuah pertanyaan: mengapa ada orang yang kata-katanya begitu bernas, ada pula yang jika berkata pasti didengar sungguh-sungguh lalu diikuti. Yang lain ada yang kata-katanya begitu dinantikan tapi ada pula yang orang pun bosan mendengarnya berbicara. Ada yang berkata lalu kata-katanya itu bergetar sampai ke sumsum tulang paling dalam, namun ada orang yang berkata hanya sampai di daun telinga. Hanya mampu menggetarkan gendang di telinga bagian dalamnya. Ada orang yang dengan satu katanya mampu merubah banyak hal, namun ada yang sampai berbusa-busa tapi tak bermanfaat sama sekali. Ini sungguh hal yang menarik untuk dibahas.

Bersatu karena Tujuan yang Satu

“Kita tahu bersatu itu perlu. Tapi itulah salah kita, kita hanya sekedar tahu” Kita semua tahu, bahwa kita bisa maju jika dan hanya jika kita bersatu. Semenjak sekolah dasar dahulu, kita diajarkan oleh guru-guru kita tentang satu hal yang diulang-ulang: sapu lidi. Mungkin kita bosan mendengarnya, tapi ini adalah salah satu pelajaran terpenting dalam proses pendidikan kita.   Lidi –sebagaimana kata guru-guru kita- akan sangat mudah dipatahkan jika hanya satu batang. Namun, jika lidi itu dikumpulkan hingga mencapai seribu atau lebih, maka lidi itu akan berubah menjadi sapu lidi yang bukan hanya sulit untuk dipatahkan tapi juga sangat berguna setidaknya untuk menyapu daun-daun berserakan di halaman depan.

Adanya Genap, Tiadanya Ganjil

Kalau kita jeli memperhatikan sekeliling kita, kita akan mendapatkan fenomena unik. Bahwa ada orang-orang yang kehadirannya senantiasa dinanti dan kepergiannya di tangisi. Ada lagi golongan orang-orang yang kehadirannya malah dihindari dan kepergiannya justru disyukuri. Pun, ada juga orang-orang yang kehadiran atau ketiadaanya sama saja: adanya tidak menggenapkan, perginya tidak mengganjilkan.

Pena: Pedang Bermata Dua

Pada masa sebelum ada awal, hanya ada Allah sendiri. Lalu diciptakanlah arsy-Nya. Dan kemudian terciptalah pena yang dengan itu Ia menitahkan untuk menuliskan segala sesuatu yang akan di ciptakan: manusia, semesta, malaikat, bumi, jin, hingga syurga dan neraka. Dengan pena itu pula Ia perintahkan untuk menulis seluruh episode yang akan dilalui semua ciptaannya. Runut. Detil. Lengkap. Bahkan kejadian setiap daun yang akan jatuhpun tertulis rapi. Begitulah ibnu Katsir  menjelaskan tentang penciptaan dalam awal dan akhir.

Makan

gambar dari www.jokamku.blogspot.com Ada hikmah yang tersembunyi di setiap hal yang kita lalui dalam hari-hari kita. Dalam hal-hal yang kadang kita anggap sepele. Bukan karena itu tidak penting, hanya karena itu telah menjadi rutinitas   sehari-hari kita yang kemudian kita kehilangan pemaknaan terhadapnya. Pun dalam hal yang satu ini: makan. Kita lapar, mencari makan atau memasak, makan, lalu kenyang. Tamat. Sudah seperti itu hari-hari kita lalui. Tamat. Selesai. Padahal ada hikmah. Ada sesuatu yang berharga dalam aktivitas itu diluar fungsinya yang memang sebagai bahan energi kita dalam beraktivitas.

Tak Semestinya

gambar dari nasyidmadany.wodpress.com Tak semestinya sepanjang perjalanan, sejauh lintasan kita terus berlari. Menerobos semak. Menantang angin. ada jenak-jenak dimana kita mesti berhenti sejenak. menghela nafas. Menengok kebelakang. Mungkin kita terlalu jauh berlari. Atau menyimpang dari jalur seharusnya. Karena berhenti bukanlah berarti menyerah, tapi mengumpulkan energi untuk berlari lebih jauh lagi.

Belajar Ikhtiar dari Bunda Hajar

gambar dari zonapencarian.blogspot.com Ditengah terik padang pasir. Panas. Gerah. Di waktu lalu, di suatu tempat yang kini kita sebut Makkah. Ada suatu romansa bernada dilema. Ibrahim Alaihi salaam, mesti meninggalkan isterinya, Hajar dan anaknya yang masih merah: Ismail. Karena suatu alasan dan perintah Tuhannya. Meski Ibrahim berat. Meski hatinya tak kuat. Berkali-kali Hajar Menanyakan mengapa Ia dan anaknya ditinggal begitu saja di tempat yang tak ada penduduk selainnya. Tak ada tumbuhan serumputpun, hanya ada pasir sejauh mata memandang. Tapi Ibrahim hanya diam, dan tak kuasa menjawab. Hanya diam dengan tatapan yang begitu sendu. Nanar. Lalu muncul kalimat dari lisan Hajar yang begitu menyejarah,”Jika memang ini perintah Allah, maka tentu Allah tak akan pernah menyia-nyiakan kami!”. lalu, Akhirnya Ibrahim pergi meninggalkan mereka berdua dengan tanpa menengok kebelakang. karena ia tahu, ia takkan kuat meninggalkan mereka. Tapi Ibrahim pergi juga, hingga hilang dari pandangan ...

Universitas Ramadhan

Dan Rasullullahpun berdoa “Ya Allah, berkahilan kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta pertemukanlah kami dengan Ramadhan” –HR Baihaqi- Sebagaimana kita perhatikan akhir-akhir ini. Banyak lulusan SMA dan sederajat berbondong-bondong bahkan berdesak-desak untuk mengikuti SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) awal Juni lalu. Padahal,Hanya sekitar 19% dari mereka yang bisa di tampung perguruan tinggi. Tapi Banyak dari mereka yang mempersiapkan “mati-matian” sejak setahun yang lalu. Mengikuti bimbel dengan harga selangit demi diterima masuk di Universitas Favorit. Pun banyak yang mempersiapkan dana puluhan juta bahkan ada yang sampai ratusan untuk membayar biaya masuk universitas favorit itu. Sejak jauh-jauh hari mereka telah menabung sebagai persiapan materi untuk memasuki Universitas. Tak sedikit juga dari mereka yang sampai jual sawah atau kendaraannya agar anaknya bisa masuk universitas. Sungguh persiapan yang tidak main-main.