Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Serial Hati

Di Tengah Sunyi

Ingin rasanya aku tarik kembali semua sajak yang telah kubacakan untukmu...   Juga Seluruh puisi yang terlanjur kuhadiahkan untukmu...   Dan marilah bersama-sama, di tengah sunyi, di saat malam telah senyap sempurna, kita mulai mengeja huruf demi huruf, kata demi kata dalam surat-surat yang telah Tuhan alamatkan untuk kita: Al Qur'an,...   Hingga...ayat-ayatnya mengalir bersama aliran darah kita, menusuk tepat di aorta jantung kita, Meremas hati kita, Meresap sampai ke sumsum tulang terdalam kita... *gambar dari sini

Buat Manisku

Sejujurnya, tadinya akupun ingin duduk-duduk lewati sepanjang purnama denganmu, manisku....   Menelusuri setiap jengkal demi jengkal taman bunga itu bersamamu.    Tetapi semenjak ku lihat kakek 80 tahun masih saja memungut botol bekas di tong-tong sampah. semenjak kulihat seorang ibu menengadah sambil membawa anaknya yang masih merah di trotoar jalan namun sedikit yang merasa iba. Semenjak kudengar tangisan seorang anak pada ibunya sebab terlalu lama menahan lapar. Semenjak kulihat tatapan sendu putus asa para anak muda yang tak kunjung peroleh kerja. semenjak itu semua...

Buat Ananda

Dakilah gunung tinggi manapun yang ananda damba: Mahameru, Kalimanjaro, atau Himalaya. Sampai suatu saat, ananda kan temukan puncak tertinggi itu justru saat kening ananda menyentuh tanah tempat kaki ananda berpijak, meski itu tempat paling rendah di muka bumi...

Sederhana Mencintaimu

Aku Ingin Mencintaimu dengan sederhana Dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana Dengan isyarat yang tak pernah disampaikan  awan kepada hujan yang menjadikannya tiada -Sapardi Djoko damono- saya tidak tahu kenapa Sapardi menulis puisi itu. Entah karena ia sedang jatuh cinta atau mungkin ia justru sedang patah hati. Entahlah, mungkin hanya Sapardi yang tahu. Tapi setidaknya puisi itu mewakili perasaan kita semua. Bahwa yang kita rindu justru kesederhanaan. Bukan kerumitan. Kerumitan yang ada sekarang ini, dalam dunia Filsafat misalnya, adalah karena ulah manusia sendiri yang mempersulit diri.  

Menatap Akhwat-pun Aku Tak Mampu

Saya hendak bercerita padamu, maka tolong dengarkan baik-baik. Alkisah, seorang pemuda amat kesulitan menjelaskan gejolak perasaannya sendiri. Gemuruh hatinya sendiri. Kadang ia tenang bagai permukaan danau. Kadang pula ia berkecamuk bagai badai di laut lepas. Kadan ia membara seperti lava di jantung gunung berapi. Atau terkadang ia dingin sebeku es di kutub utara. Seringkali ia lapang seluas sahara, kadangkala ia sempit sesesak sel di penjara.

Aku dan Ibuku Pada Suatu Hari

“aku ingat betul. Pernah Kau kecup keningku disaat pagi. Meluruskan kerah bajuku yang lusuh. Menjahit kantong bajuku yang koyak tanpa kutahu. Ajariku hingga mampu berdiri tegak. Hingga mampu berjalan tegap. Lalu, kau minta aku pergi kejar cita hingga sampai di ujung samudera. Hingga aku melangkah kian jauh. Berderap hingga peluh. Tapi Kau tak pernah ingatkanku untuk berhenti. Tak pernah beritahuku sampai kapan mesti berlari. bahkan tak pernah tunjukanku jalan kembali. Padahal, ini pertama kalinya aku ingin pulang.......”  Pada suatu hari, aku menangis untuk pertamakalinya. Lalu ibuku memberiku nama Syubhan Triyatna. Siapapun tidak tahu apa arti dari kata Syubhan, bahkan ibuku sendiri. Mungkin Ibuku ingin agar aku sendirilah yang memberi arti pada nama itu. Tentang triyatna, Tri artinya 3, aku adalah anak ke 3. Kalau Yatna diambil dari nama tetangga. Tapi jangan buruk sangka dulu. Itu karena tetanggaku dulu adalah orang paling terpandang sekampung: Bapak Yayat SupriYATNA. Belia...

Cinta, Bukan Untuk Canda

“Sebab bagi kami, para pemuda, Lidah Adalah Setengah dari Harga Diri!” Hari Itu hari Jum’at. Hari yang tepat untuk suatu kegiatan  yang mesti menguras energi hari itu: Ujian Praktikum Salah Satu Mata Kuliah di Departemen Akuakultur. Saya awali pagi itu dengan penuh optimisme, Bahwa ujian kali ini akan baik-baik saja. Terlepas dari persiapan yang memang seadanya. Penyebab optimisme hari ini sederhana saja, yaitu mentari yang cerah terbit di ufuk. Mentari melambangkan optimisme sebab ia hadir setelah gelap yang panjang. Ia muncul dengan hangatnya setelah malam yang begitu dingin. Mentari memang menginspirasi.

Aku Cemburu

Pada satu-dua daun yang jatuh di pekarangan rumahmu, aku cemburu. Sebab ia jatuh tanpa kebencian. Ia tak pernah mendendam pada hal yang membuatnya jatuh: angin. Sebab ia jatuh setelah tuntas semua tugasnya: menjadi penerima cahaya untuk bekal pohon tumbuh dewasa. Sebab ia jatuh tanpa sekalipun keluh pada Tuhannya. Ia jatuh dengan cinta. Itu yang tak mampu kutiru...

Catatan Hati Kadiv Konsumsi

“Yang mesti kita fahami lagi adalah, bahwa butir nasi yang kita buang-buang itu bukan hanya tumbuh dari padi yang diairi aliran irigasi tapi juga tumbuh oleh air mata, peluh, bahkan darah para petani !” Mei 2012. Saya mendaftar, tepatnya didaftarkan di sebuah kepanitiaan terbesar di Institut Pertanian Bogor: MPKMB. Kepanitiaan Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru. Besar, karena Jumlah pesertanya hampir   5000 orang dengan panitia   355 orang. Tapi sepertinya bukan itu yang membuat besar, yang membuat besar adalah tanggung jawab seorang kakak kepada adiknya. Tanggung jawab pewarisan keluhuran budi dari pendahulu kepada penerusnya. Disitu beratnya, disitu besarnya.

Karena Ia Mencintaimu

Pernahkah kau merasa kehilangan arah angin? Kemudimu lepas? Tidak tahu lagi mesti apa yang dilakukan? Hanya terombang-ambing gelombang? Awak kapalmu sudah sejak lama putus arang? badai tak hentinya melanda? Menggunung ombak tak hentinya menerpa? Dan hanya tinggal sendiri di tengah luas samudera? Bingung. Aku sering

Kerudung Cokelat-mu

gambar dari pixabay.com Mengingat kembali perjalanan pertemuan kita. Kita belum pernah bercakap. Bersetatap pun belum. Karena kau senantiasa menunduk. Lalu tersenyum. Manis. Manis sekali. Dan aku selalu gugup, selalu saja berkeringat saat kita berpapasan. Ah, gejolak masa muda. Mengalir begitu alami.

Pemuda Bagai Ali

 "Jangan Pernah mengharapkan Fathimah Az Zahra, Jika engkau belum seperti Sayyidina Ali.." Inilah kisah cinta yang penuh romansa. Tentang 2 insan yang sama-sama menahan degup jantungnya kala muda. Menutup keran hatinya sebelum sah cinta dalam tali pernikahan. Tentang Ali dan Fathimah. Mereka berdua tidak pernah mengucap cinta. Hanya memendamnya kian lama karena malu dan iman. Allah tahu itu. Maka tatkala Umar Ibn Khatab melamar Fathimah, Ayahnya, Rasullallah SAW menolak pinangan itu. Juga ketika Abu Bakar Ash Shidiq meminta bunga yang baru mekar itu, Rasul pun juga tak memberinya. Entah apa alasannya. Yang pasti ada kisah cinta yang dipersiapkanNya.

Pra Nikah, Pra Cinta*

Tidak harus selalu kau... Aku hanya malu jika nanti menghadap Tuhanku  Dalam keadaan masih membujang  ....... 

Selalu Ada Rindu di Surau Itu

“Ingsun titip Tajug Lan Fakir Miskin.”  -Sunan Gunung Jati, tentang Surau- Mari kita berbincang tentang makna dari kutipan tadi. Terjemahan bebasnya kira-kira begini: “Aku titipkan padamu, hai anak muda, Mushala-mushala itu, Tajug-tajug itu, surau-surau itu. Ramaikan selalu tempat sederhana itu. Dan, setelah itu jangan hanya kau sibuk Shalat berdzikir di tempat itu saja, ingatlah dan bantulah orang-orang yang fakir maupun miskin yang menanti uluran tanganmu.” Begitu mungkin yang ingin disampaikan Sunan Gunung jati.

Orang-Orang Romantis

ilustrasi:fiksi.kompasiana.com Aku selalu kagum pada mereka: orang-orang romantis. Mereka selalu bekerja dengan sepenuh cinta. Dengan segenap kesadaran. Boleh jadi mereka berpeluh, tapi pantang mengeluh. Memang mereka lelah, tapi tak kenal patah. Dan sesekali mereka berhenti, untuk sekedar menyeka keringat. Untuk sekedar menutup luka. lalu dengan nanar mereka menengadah menatap langit. seketika itu mereka teringat akan tujuan mereka, Cita-cita dan mimpi-mimpi mereka. saat itulah kerinduan mereka mendayu-dayu. menyala-nyala. Tapi mereka tidak terbuai, setelah itu mereka segera menggulung kembali lengan bajunya untuk meneruskan langkah yang sempat tertunda..... Senja, 17 Januari 2012     Pendaki Langit

Selalu Saja Kalah

sumber ilustrasi:akank-sutha.blogspot.com Kalah. Lagi-lagi kalah. bukan karena kau kuat lalu kau pasti menang. Tapi, selalu ada musuh yang untuk menaklukannya perlu sunyi yang panjang. Yang untuk menundukannya mungkin kau akan menelan pil paling pahit. musuhmu yang selalu ada bersama nafas dan langkahmu. Banyak orang berhasil menaklukan sebuah imperium, tapi sedikit untuk yang satu ini: DIRI SENDIRI !  Dan kau selalu kalah. Selalu saja. Suatu ketika, ingin kaulawan dirimu dengan segenap kemampuan. Tapi semangat itu pun padam juga. Seperti bara yang padam oleh air. Malah dirimu lah yang telah dikuasai nafsu bak ombak yang bergulung, kau tak akan mampu menahan terpaannya. mngkin ingin rasanya kau cambuk dirimu sendiri. tapi, selalu saja kau yang terlalu lemah. Terlalu sering kau berhadapan dengan dirimu sendiri, tapi selalu saja kau lunglai. Selalu saja kau kalah.

Tak Cukup Waktu

sumber: anneahira.com Pertemuan Itu teramat singkat, Tak mampu tuk menafsir senyum di rembulan wajahmu Tak sanggup tuk pecahkan sandi di ranumnya pipimu Tak berdaya tuk mengeja aksara di teduhnya tatapmu Tak cukup  tuk menerka gerimis yang menyapu keningmu Tak sampai tuk titipkan rindu di sela-sela bayangmu Jikalah lagi ada waktu bertemu, Aku akan. . . . . . . . .  . april, 2011 Pendaki Langit

Surat untuk Bidadari

Kutitip Rinai rindu padamu, suatu hari nanti izinkan aku menyemainya....... sudahkah kau terima, sayangku? surat yang kutitip pada kelopak angin di senja waktu berisi kata yang tak sanggup disampaikan embun pada mentari yang menjadikannya pergi berisi isyarat yang tak mampu disampaikan debu pada angin yang menjadikannya sirna sudahkah kau baca, sayangku?

Seutas Senyum Rembulan

seutas senyum yang kau hadiahkan padaku ku bingkai dan ku rawat dari debu ku simpan dalam kotak tak seorang pun tahu ku kunci dari dalam agar terjaga selalu jikalah sudi, kau lempar senyum itu lagi, maka akan kuracik untukmu sejuta puisi. yang kueja dari setiap embun di pucuk daun pagi. yang kurenda dari aksara rindu yang membasahi matamu.

Sesederhana Cinta

Aku mencintainya.... Tidak tahu sejak kapan.... -mungkin sejak aku menatap wajahnya- aku tidak tahu mengapa...  aku tidak tahu bagaimana. . . aku hanya mencintainya... dengan caraku sendiri... aku ingin mencintainya dengan sederhana... dengan kata yang tak sempat terucap... aku ingin mencintainya dengan sederhana... dengan isyarat yang tak pernah tersampaikan...