Langsung ke konten utama

Cinta, Bukan Untuk Canda

“Sebab bagi kami, para pemuda, Lidah Adalah Setengah dari Harga Diri!”
Hari Itu hari Jum’at. Hari yang tepat untuk suatu kegiatan  yang mesti menguras energi hari itu: Ujian Praktikum Salah Satu Mata Kuliah di Departemen Akuakultur. Saya awali pagi itu dengan penuh optimisme, Bahwa ujian kali ini akan baik-baik saja. Terlepas dari persiapan yang memang seadanya. Penyebab optimisme hari ini sederhana saja, yaitu mentari yang cerah terbit di ufuk. Mentari melambangkan optimisme sebab ia hadir setelah gelap yang panjang. Ia muncul dengan hangatnya setelah malam yang begitu dingin. Mentari memang menginspirasi.

Ujian praktikum hari itu dibagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama adalah sesi ujian ketok. Ujian yang familiar di kampus IPB. Semacam ujian berjalan yang praktikan mesti berpindah tempat dari satu soal ke soal lain. Soal di pisahkan tempatnya secara berurutan lalu setiap praktikan berpindah dari satu soal ke soal lainnya jika ada tanda berupa ketukan atau yang semisal. Ketukan itu terdengar setiap 15 detik sekali. Ujian seperti ini memang efektif. Selain kesulitan untuk berbuat curang, ujian jenis ini juga hanya menghabiskan waktu yang sebentar. Sedangkan sesi yang kedua adalah ujian Lisan. Yaitu ujian yang dilakukan dengan pertanyaan-pertanyaan langsung dari asisten praktikum ke praktikan. Ujian jenis ini memang agak ditakuti. Selain dituntut mesti faham benar akan materi, dituntut pula mesti kuat mental. Sebab tidak jarang Asisten Praktikum “menguji” mental praktikan.

Tapi ada kejanggalan ketika ujian ketok berlangsung. Aneh. Dan itu cukup membuat hati saya bertanya-tanya. Di satu tempat soal, kalau tidak salah nomor 7. Setiap praktikan yang melewati soal itu pasti berteriak ke salah satu asisten, “kak, Aku mencintaimu....”. Dan semua asisten serta praktikan yang ada di ruangan itu pun tertawa lebar. Ini juga aneh. Memang apanya yang lucu? Dari sini saya mulai curiga.

Akhirnya tibalah saatnya saya sampai di soal itu. Dan ternyata kecurigaan saya benar. Di soal itu tertulis satu perintah: “Nyatakan cinta pada salah satu asisten lawan jenis”. Tapi saya hanya diam.
“Ayo Katakan pada kakak yang itu !”, seru Asisten
Saya masih diam.
“Ayo cepat katakan!”, Asisten mulai marah.
“Ah payah, lama, sudah, lanjut saja!”, asisten sudah sangat kesal.
Ketukan pada lemaripun berbunyi. Saya berjalan ke nomor selanjutnya.

Maaf kak, saya tidak bermaksud untuk mengecewakan permintaan anda. Hanya bagi saya kata “cinta” tidak bisa dikata disembarang tempat, di sembarang waktu, dan pada sembarang orang. Meski itu hanya sekedar canda dan tidak ada yang menganggapnya serius. Mungkin bagi anda itu semua hanya sekedar untuk hiburan di tengah ujian. Hanya sekedar peledak tawa. Tapi tidak bagi saya. Kata cinta bukanlah untuk canda. Kata cinta mewakili satu komitmen yang belum tentu saya sanggup memikulnya.

Sebab ketika cinta telah diucap. Itu artinya adalah kesiapan untuk memberi sepanjang hayat. Ya, memberi. Bukan sekedar menerima. Itu yang sulit. Dan mungkin itu akan menghabiskan seluruh umur kita. Menghabiskan seluruh energi kita. Saat suka atau tidak. Saat semangat atau lemah. Oleh karena itu, ketika kita mengucap cinta pada seseorang, seakan-akan kita berkata, “Padamu, aku siap memberi tanpa henti”.

Mungkin anda menganggap saya berlebihan dalam perkara ini. Tapi tidak. Seperti halnya talak. Meski dilakukan sambil bercanda, itu tetap dianggap sebagai hukum, bahwa dia telah menceraikan isterinya. Begitu pula kata cinta. Siapa yang telah mengucapkannya pada siapa, maka ia mesti bertanggung jawab pada konsekuensinya. Meski sambil bercanda. Memang tidak ada di fiqih manapun yang membahas tentang hal ini. Tapi bukankah kita dilarang berdusta meski dalam canda?
dan bukankah lidah pemuda adalah setengah dari harga dirinya?

Memang saat ini begitu banyak pemuda yang dengan mudah mengucap kata cinta tanpa pernah berpikir panjang tentang kata-katanya itu. Begitu pula dalam film, sinetron, FTV, dan bacaan-bacaan picisan. Sehingga, dalam mata sebagian pemuda, adalah hal yang remeh-temeh mengucap kata cinta meski pada sejuta gadis yang berbeda-beda. Tidakkah ia belajar dari Ali yang temani hidup Fathimah dalam lapar yang melilit dalam miskin papa setelah ia nyatakan cintanya? Atau pada Umar yang memberikan harta dan jiwanya setelah ia katakan pada Rasullallah, “Ya Rasul aku mencintaimu melebihi cintaku pada diriku sendiri...”. Atau pada Layla yang jadi gila akibat kata cintanya pada Qais. Ya, kata cinta lebih dari sekedar yang kita kira. Dan bukan untuk canda. Sekali lagi bukan untuk canda. Itu tidak lucu sama sekali.


                                                                                                               

                                     Kala hujan saat senja, januari 2013
                                Yang masih terbata mengeja kata cinta,


                                                               Syubhan Triyatna


                                                                                               





Komentar

Anonim mengatakan…
" Yang masih terbata mengeja kata cinta"
subhanallah

semangat menulis syubhan. menanti karya-karyamu yang lainnya. bahkan mungkin menunggu novel di penghujung 2013 ini atas nama Syubhan Triyatna Sadanur
Syubhan Triyatna mengatakan…
Oke. Semangat!
Terimakasih dukungannya, sangat berarti...
Anonim mengatakan…
masih ada ya soal ujian yang begitu :D
Syubhan Triyatna mengatakan…
Ya begitulah... ^^
Raras mengatakan…
tulisannya bagus-bagus kak subhan :-)
syarat engan makna yang bisa digali, bagus untuk cerminan kita-kita