Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Serial Puisi

Untuk (Yang mengaku-ngaku) Mahasiswa

Wahai... memang siapa kamu?! Sampai Berani Mencuri kata “Maha” untuk depan namamu Sadarkah kamu apa artinya itu? Atau jangan-jangan kamu hanya mengaku-ngaku! Maka tanyakanlah artinya pada KasimMahasiswa Pertanian Yang rela 15 tahun tak pulang ke almamater apalagi kampung halaman Demi terbitkan satu-dua cahaya di waimintal sulawesi utara Berbekal kaos berlumpur dan sandal yang tak sama warnanya Atau tanyakanlah artinya pada Iwan, Ida, dan Hadi di kuburnya Tiga trisakti yang ditusuk peluru panas reformasi Tanyakan pada mereka apa itu mahasiswa

Selamat Ramadhan

Selamat Ramadhan, Mentari.. Semoga di hari-hari nanti, Cahyamu bisa lebih terang lagi di gelap hati-hati kami...

Kau kah itu, Layla?

"Seandainya Bidadari Syurga itu menempakkan dirinya," Kata Sang Nabi dalam riwayat Anas Bin Malik,"Maka cahaya wajahnya akan berpendar meliputi ruang antara langit dan bumi dan kerudung rambutnya lebih elok dari dunia dan segala isinya" ilustrasi:kalamku.wordpress.com Kau kah itu, Layla? Yang tertunduk penuh murung disitu Yang sesekali melempar lirik penuh sendu Apa itu, Layla? Yang mengalir syahdu di ranum pipimu Mengapa tidak segera kau seka? Andai saja tanganku sampai tuk menyeka wajahmu Layla, Adakah kau sepi? Aku pun... Tapi janganlah kau coba tuk turun Duniaku penuh busuk, Layla! Penuh bangkai! Tetaplah disitu, Layla! Jangan beranjak lagi! Biar aku yang datang pada satu waktu Jangan tanya kapan, Layla

Entah Dengan Apa

ilustrasi:bisnis-jabar.com Entah dengan apa kau buatku ingin menari. Menari itu mesti, katamu. Menarilah bagai pedang-pedang menghujam garang. menarilah Bak ombak gelombang pecahkan karang. Dan Menarilah seperti lambai daun dalam hela angin. Entah dengan apa kau buatku ingin menari. aku yang selalu ragu menghadap langit pelangi. Aku yang selalu takut menatap senja mentari. Tiba-tiba saja kau datang remas jantungku. Buatku ingin menari. Buatku ingin bernyanyi. 19 Feb 2012 Pendaki Langit

Dalam Kenangan: Qinue

Dalam kenangan: Qinue Suatu saat nanti Jiwaku takkan lagi bercerita Ragaku takkan lagi terisi Tangisku takkan lagi ada Suaraku takkan lagi bergema Hidupku pun tak diakui lagi Tapi lewat surat ini kau takkan lagi sendiri Kau akan selalu terisi hingga patah hariku

Pena Patah

ilustrasi: amoviom.blogspot.com Tuhan, Engkau yang paling tahu Tentang wajah pendidikan negeri yang berdebu Tentang pena yang patah Tentang buku lusuh tak terjamah Entah dari mana angin ini berhembus Membawa mendung, mengundang badai

Tak Cukup Waktu

sumber: anneahira.com Pertemuan Itu teramat singkat, Tak mampu tuk menafsir senyum di rembulan wajahmu Tak sanggup tuk pecahkan sandi di ranumnya pipimu Tak berdaya tuk mengeja aksara di teduhnya tatapmu Tak cukup  tuk menerka gerimis yang menyapu keningmu Tak sampai tuk titipkan rindu di sela-sela bayangmu Jikalah lagi ada waktu bertemu, Aku akan. . . . . . . . .  . april, 2011 Pendaki Langit

Fenomena Pendidikan

karya: H.G CS* sumber:akhmadguntar.com Seiring sinar matahari yang terus berpijar Jatuh menerpa dedaunan nan hijau Kicau burung bersorak gembira menatap hamparan bumi persada Bukit gunung berbaris-baris menampakkan kegagahan Semilir angin bertiup sepoi mengusik, mengusir kegerahan Desir ombak bergulung menghempas kesunyian alam yang bisu Beriring senja semakin menghampiri dengan pasti keheningan malam pun menjelang Gemerlap bintang dan bulan menyapu kepekatan mengusir dinginnya malam Illahi….Rabbi……… Kami rengkuh semua pesonaMu Barisan bangunan kokoh menjulang tinggi menyapu ribuan hektar lahan Korban berjatuhan atas nama pembangunan Teknologi berkembang bagai jamur dikala hujan Suasana pendidikan pun semarak Sejenak ku terpanah, terperangah dan terengah-engah hah… Ketika tertatap anak – anak bangsa dengan berangan – angan fatamorgana Mereka terbuai dengan kemajuan teknologi Mereka biarkan kenikmatan menari – nari Mereka menggeliat dengan kenikmatan dunia M...

Narasi Akhlak

Bangkai nurani terkapar. Begitu saja. Disembelih nafsu dengan parang berkarat. Lukanya menganga bernanah. Pedih. Perih. Darah berceceran. Ke muka. Ke dinding hati. Ke mata air jiwamu. Tiba-tiba semua merah marun. Amis menyerbak. Dan busuknya lah yang menyumbat hidungmu. Menyumpal telingamu. Menohok matamu. Hanya gagak-gagak hitam yang kemudian mendekat. Tergiur. Tergiur borok busuk bangkai nurani. Tak ada peduli. Tergeletak. Begitu saja. Langit akhlak roboh. Puingnya menimpa pelita. Pecah. Lalu padam. Gelap menyeruak. Mentari lari ketakutan. Purnama pergi sembunyi. Hanya kabut hitam yang berlapis. Debu dusta bertebaran. Dan badai itu pun datang ditunggangi iblis membawa panas dari neraka. Seketika semua pengap. Gerah. Sesak. Yang terdengar hanya keluh. Caci maki. Kutukan. Hujan itu pun turun. Tapi nanah ! Saat malam itu pekat sepekat-pekatnya. Lelaki itu bangun, akhirnya. Membawa mimpi dari langit. Ia lempar selimutnya. Meloncat berlari. Menembus kabut. Menghantam bad...

Matematika adalah Puisi

Matematika adalah puisi. Ia ada dalam kedalaman konsep. berbunga di ketinggian filosofi. ada puisi disana. indah. sangat indah. bahkan lebih indah dari karya sastra para pujangga. tapi kau tak akan bisa membacanya.karena ia tak pernah dibukukan. ia hanya ada dalam palung jiwa para matematikawan. mereka tak berminat mengatakanya.mereka hanya menikmatinya. dalam diam. dalam sunyi. mereka tak tertarik dengan gemuruh tepuk tangan. karena mereka terbuai. mereka tenggelam dalam indahnya. tapi kau tak akan mampu mengapresiasinya. karena merekapun tak membutuhkanmu. kau pun tak akan bisa menikmatinya. sebelum kau tenggelamkan dirimu sendiri hingga kau pun terbuai. .......

Mungkin Aku

Mungkin aku debu Berhambur tersapu di dinding-dinding waktu Terombang-ambing melayang oleh angin tak tentu Jadi aku debu? Ah, bukan! Debu kan layu Mungkin aku daun Daun kering yang jatuh mengalun Menggesek udara hasilkan nada yang turun Jadi aku daun? Ah, bukan! Daun kan rabun Mungkin aku bunga rumput Rekah di pagi mentari turut Hilang di sore senja surut Jadi aku bunga rumput? Ah, bukan! Bunga rumput kan penakut Mungkin aku kamu Ah, bukan! Kamu kan Satu Atau mungkin aku aku Aku yang direnda menjadi kami lalu dirajut yang menjadikannya kita Akulah kita Ya, kitalah aku Pendaki langit, September  2011

Surat untuk Bidadari

Kutitip Rinai rindu padamu, suatu hari nanti izinkan aku menyemainya....... sudahkah kau terima, sayangku? surat yang kutitip pada kelopak angin di senja waktu berisi kata yang tak sanggup disampaikan embun pada mentari yang menjadikannya pergi berisi isyarat yang tak mampu disampaikan debu pada angin yang menjadikannya sirna sudahkah kau baca, sayangku?

Seutas Senyum Rembulan

seutas senyum yang kau hadiahkan padaku ku bingkai dan ku rawat dari debu ku simpan dalam kotak tak seorang pun tahu ku kunci dari dalam agar terjaga selalu jikalah sudi, kau lempar senyum itu lagi, maka akan kuracik untukmu sejuta puisi. yang kueja dari setiap embun di pucuk daun pagi. yang kurenda dari aksara rindu yang membasahi matamu.