Langsung ke konten utama

Pena Patah

ilustrasi: amoviom.blogspot.com
Tuhan,
Engkau yang paling tahu
Tentang wajah pendidikan negeri yang berdebu
Tentang pena yang patah
Tentang buku lusuh tak terjamah

Entah dari mana angin ini berhembus
Membawa mendung, mengundang badai
Merangkul kami dengan angan-angan fatamorgana
Kami biarkan kesenangan bernyanyi menari
Kami hanyut dalam arus ini
Terdampar di pojokan angan-angan
Dengan buku kami semakin tak peduli
Dengan hidup kami semakin tak mengerti

Sepertinya badai makin berderai
Katakana padaku wahai badai
Mengapa kau seakan enggan berganti pelangi
Sepertinya malam kami masih panjang
Katakan padaku wahai fajar
Kapan kau akan hadir hantarkan mentari
Mengapa kau seakan takut menyeruak gelap

Ajari lagi kami merindu bagai sebatang perdu
Biar kami rengkuh lagi cahaya pesona-Mu
Ajari lagi kami berkhidmat bagai kelopak bunga
Biar kami coba lagi nyalakan pelita
Meski hanya sebatang lilin


September 2011,
Pendaki Langit

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang-Orang Romantis

ilustrasi:fiksi.kompasiana.com Aku selalu kagum pada mereka: orang-orang romantis. Mereka selalu bekerja dengan sepenuh cinta. Dengan segenap kesadaran. Boleh jadi mereka berpeluh, tapi pantang mengeluh. Memang mereka lelah, tapi tak kenal patah. Dan sesekali mereka berhenti, untuk sekedar menyeka keringat. Untuk sekedar menutup luka. lalu dengan nanar mereka menengadah menatap langit. seketika itu mereka teringat akan tujuan mereka, Cita-cita dan mimpi-mimpi mereka. saat itulah kerinduan mereka mendayu-dayu. menyala-nyala. Tapi mereka tidak terbuai, setelah itu mereka segera menggulung kembali lengan bajunya untuk meneruskan langkah yang sempat tertunda..... Senja, 17 Januari 2012     Pendaki Langit

Adanya Genap, Tiadanya Ganjil

Kalau kita jeli memperhatikan sekeliling kita, kita akan mendapatkan fenomena unik. Bahwa ada orang-orang yang kehadirannya senantiasa dinanti dan kepergiannya di tangisi. Ada lagi golongan orang-orang yang kehadirannya malah dihindari dan kepergiannya justru disyukuri. Pun, ada juga orang-orang yang kehadiran atau ketiadaanya sama saja: adanya tidak menggenapkan, perginya tidak mengganjilkan.

Mata Air Kepemimpinan

“Kedudukan pemimpin dalam dakwah”, kata Hasan Al Banna, “adalah sebagai ayah dalam kaitan ikatan hati, sebagai guru dalam kaitan mengajarkan ilmu yang bermanfaat, sebagai syaikh dalam kaitan pendidikan ruhani, dan sebagai pemimpin dalam mengendalikan kebijakan umum.”          Seingat saya,   saat saya LDKO (latihan dasar kepemimpinan OSIS) dulu dan masih berseragam putih abu dijelaskan oleh seorang kakak kelas bahwa pemimpin adalah orang yang mampu mempengaruhi orang lain untuk bergerak mencapai tujuan bersama. Intinya, pemimpin adalah pengaruh. Tidak ada kepemimpinan tanpa adanya pengaruh. Saat ini, saya baru sadar bahwa ada kesalahan dalam definisi itu. Tepatnya dalam kata pengaruh. Disitu tidak disebutkan pengaruh itu arahnya kemana: Langit atau jurang. Itulah ilmu barat. Selalu munculkan syubhat. Maka lahirlah kepemimpinan ala Hitler yang bantai jutaan jiwa, Muncullah Stalin yang sengsarakan rakyatnya sendiri dengan konsep yang di bawanya: komunis...