Langsung ke konten utama

Sama


Kau salah,kawan! kau salah! wahai engkau yang bernyanyi demi keping-keping rupiah. Kau salah. Kau kata kita ini berbeda, saat kau peluk erat gitar tua dari bus ke bus kota. Dan aku cengkram pena dari kertas hingga pustaka. Kita sama, Kawan! tak ada beda! maka tegakkan lagi kepalamu! Junjung lagi harga dirimu! kita hidup dibawah langit yang sama biru. Di atas tanah yang sama kelabu. Di antara teduh naungan Tuhan yang sama satu. Jangan lagi kau bernyanyi pilu seperti itu. Seakan Tuhanlah yang sengaja ciptakan derita untukmu. Sekali lagi, Kau salah kawan! Kita tak beda, kita sama! yang jadi beda hanya hal yang satu, dan itu hanya Tuhan kita yang tahu...

"....Sesungguhnya orang yang paling mulia diantaramu disisi Allah ialah yang paling bertakwa.."-Q.S. Al Hujurat:13-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang-Orang Romantis

ilustrasi:fiksi.kompasiana.com Aku selalu kagum pada mereka: orang-orang romantis. Mereka selalu bekerja dengan sepenuh cinta. Dengan segenap kesadaran. Boleh jadi mereka berpeluh, tapi pantang mengeluh. Memang mereka lelah, tapi tak kenal patah. Dan sesekali mereka berhenti, untuk sekedar menyeka keringat. Untuk sekedar menutup luka. lalu dengan nanar mereka menengadah menatap langit. seketika itu mereka teringat akan tujuan mereka, Cita-cita dan mimpi-mimpi mereka. saat itulah kerinduan mereka mendayu-dayu. menyala-nyala. Tapi mereka tidak terbuai, setelah itu mereka segera menggulung kembali lengan bajunya untuk meneruskan langkah yang sempat tertunda..... Senja, 17 Januari 2012     Pendaki Langit

Adanya Genap, Tiadanya Ganjil

Kalau kita jeli memperhatikan sekeliling kita, kita akan mendapatkan fenomena unik. Bahwa ada orang-orang yang kehadirannya senantiasa dinanti dan kepergiannya di tangisi. Ada lagi golongan orang-orang yang kehadirannya malah dihindari dan kepergiannya justru disyukuri. Pun, ada juga orang-orang yang kehadiran atau ketiadaanya sama saja: adanya tidak menggenapkan, perginya tidak mengganjilkan.

Cinta, Bukan Untuk Canda

“Sebab bagi kami, para pemuda, Lidah Adalah Setengah dari Harga Diri!” Hari Itu hari Jum’at. Hari yang tepat untuk suatu kegiatan  yang mesti menguras energi hari itu: Ujian Praktikum Salah Satu Mata Kuliah di Departemen Akuakultur. Saya awali pagi itu dengan penuh optimisme, Bahwa ujian kali ini akan baik-baik saja. Terlepas dari persiapan yang memang seadanya. Penyebab optimisme hari ini sederhana saja, yaitu mentari yang cerah terbit di ufuk. Mentari melambangkan optimisme sebab ia hadir setelah gelap yang panjang. Ia muncul dengan hangatnya setelah malam yang begitu dingin. Mentari memang menginspirasi.