Langsung ke konten utama

Tren Peradaban

ilustrasi: e-spark.co
Setiap masa memiliki trennya masing-masing. Begitulah setidaknya yang bisa kita fahami dari bergulirnya sejarah, waktu ke waktu. Amatilah sejarah ketika masa Musa AS dan Harun AS, maka kau kan temukan tren yang booming pada masa itu adalah sihir dan buhul-buhul. Jadi tidak salah jika mukjizat Musa kala itu adalah tongkat yang bisa menjelma ular atau mampu belah samudera. Lalu, amati pula masa dimana Muhammad SAW diutus, ketika itu orang yang paling dihormati adalah penyair sastrawan itu, maka sangat tepat mukjizat yang turun pada Sang Nabi adalah Al -Qur'an yang kualitasnya terlalu tinggi jika harus dibandingkan dengan sastra dan syair mereka, orang-orang pongah Quraisy. Dan pada masa awal hijrah, kala itu sejarah dipenuhi oleh ksatria-ksatria penakluk macam Khalid bin Walid atau Umar bin Khatab. Karena memang orang-orang seperti itulah yang dibutuhkan (saat itu). Bergerak ke masa kejayaan islam era Abasiah hingga Turki Ottoman, kau kan melihat yang dominan pada saat itu adalah para pecinta ilmu, pembangun peradaban. Seperi, ahli kedokteran Ibnu Sina, Bapak sosiologi Ibnu Khaldun dan terlalu banyak lagi. sedikit sekali kita temukan pejuang-pejuang penaklukan yang mungkin sudah dihabiskan di era hirjah. Begitulah sunnatullahnya bahwa setiap masa selalu meminta tipe pahlawan yang berbeda-beda.


Meminjam analisisnya Dr. Anis Baswedan tentang tren pahlawan di abad 20-21. Beliau memaparkan bahwa yang punya peran strategis pada masa pra kemerdekaan adalah golongan priayi. Karena merekalah satu-satunya golongan pribumi yang punya kesempatan meraih pendidikan sebagai implikasi politik etis Belanda. Munculah dari mereka tokoh sekaliber Sutomo, Soekarno, Hatta, dll. Mereka semua adalah priayi atau para bangsawan pribumu masa itu. Para Founding father itu punya saham yang besar dalam pembentukan NKRI. Merekalah tokoh utama pada masa pra kemerdekaan. Pasca kemerdekaan lain lagi. Pemuda khususnya mahasiswa memiliki peran yang amat vital. dan peran puncak mereka adalah tatkala robohkan rezim Soeharto yang berdarah-darah di 1998, reformasi. Kini, Pasca Reformasi, Ia meramalkan bahwa yang akan memegang kendali peradaban adalah para wirausahawan atau entrepreneur. Karena mereka punya power berupa materi sehingga bisa mengakses ke semua lini. Sehingga tidak aneh jika konglomerat itu: Abu Rizal Bakrie, mampu mencalon sebagai presiden.

Melihat dari tren yang terus berkembang, maka saat ini, peran yang semestinya diambil mahasiswa adalah wirausahawan. Bukan berarti peran yang lain tidak penting, peran yang lain semisal birokrat, pendidik juga sangat penting. Hanya saja yang paling dibutuhkan adalah wirausahawan. Karena ekonomi kini menjadi tolak ukur peradaban. Bukan berarti saya pro kapitalis, bahkan saya benci. Dan untuk hancurkan kapitalis, kita harus masuk kelingkarannya dulu baru hancurkan dari dalam.

Mahasiswa tidak selayaknya lagi bersikap seperti angkatan 98. Kini kita harus lebih dinamis dan relistis. Isu yang berkembang saat ini adalah pengangguran, kelaparan, kemiskinan. maka untuk menentaskan itu semua dibutuhkan para wirausahawan. Mereka sedikit. Kini, hanya ada 0,8% dari populasi, sedangkan yang dibuuhkan minimal adalah 2%. Mari kita sumbang meski nol koma sekian persen. Mari kita sumbang dengan sepenuh masa muda kita.

Di kampus kita sendiri, IPB, Entrepreneurship adalah salah satu dari lima pilar orientasi. Maka amat salah jika ada mahasiswa ditanya mengapa kau tidak berwirausaha, lalu dijawab karena ingin fokus belajar. Padahal belajar di IPB adalah berwirausaha. Maka mari kita mulai, tentu dari bidang ilmu kita masing-masing. Technoprenership, Aquapreneurship, Agroprenership, dll. Itu semua menunggu tangan-tangan dingin kita untuk menggarapnya. Jikapun seandainya tidak ada yang sedia lagi melalui jalan ini, biarlah saya infakkan masa muda saya untuk arungi setapak ini.

Berwirausaha, bukanlah untukku, bukan untukmu, tapi untuk Indonesia. Untuk orang-orang lapar itu. Untuk mereka yang menangis di pagi hari karena tidak ada yang mampu disantap. Untuk mereka yang tertekan karena tak punya lahan kerja. Untuk mereka yang tak bisa sekolah karena tersandung dana. Untuk mereka yang terpaksa mengadahkan tangan memelas iba. Untuk mereka, umat yang kita cintai.

Pagi, 18 mei 2012
pendaki Langit

Komentar

wahyu ahmad kautsar mengatakan…
mudah2an kita bisa menjadi entrepreneut yang sukses lagi bermanfaat lagi banyak orang ^^
jazakalloh ka taujihnya, Inspiring :)
Syubhan Triyatna mengatakan…
Amiin, Mari infakkan masa muda kita untuk umat ini ^^

Postingan populer dari blog ini

Orang-Orang Romantis

ilustrasi:fiksi.kompasiana.com Aku selalu kagum pada mereka: orang-orang romantis. Mereka selalu bekerja dengan sepenuh cinta. Dengan segenap kesadaran. Boleh jadi mereka berpeluh, tapi pantang mengeluh. Memang mereka lelah, tapi tak kenal patah. Dan sesekali mereka berhenti, untuk sekedar menyeka keringat. Untuk sekedar menutup luka. lalu dengan nanar mereka menengadah menatap langit. seketika itu mereka teringat akan tujuan mereka, Cita-cita dan mimpi-mimpi mereka. saat itulah kerinduan mereka mendayu-dayu. menyala-nyala. Tapi mereka tidak terbuai, setelah itu mereka segera menggulung kembali lengan bajunya untuk meneruskan langkah yang sempat tertunda..... Senja, 17 Januari 2012     Pendaki Langit

Adanya Genap, Tiadanya Ganjil

Kalau kita jeli memperhatikan sekeliling kita, kita akan mendapatkan fenomena unik. Bahwa ada orang-orang yang kehadirannya senantiasa dinanti dan kepergiannya di tangisi. Ada lagi golongan orang-orang yang kehadirannya malah dihindari dan kepergiannya justru disyukuri. Pun, ada juga orang-orang yang kehadiran atau ketiadaanya sama saja: adanya tidak menggenapkan, perginya tidak mengganjilkan.

Cinta, Bukan Untuk Canda

“Sebab bagi kami, para pemuda, Lidah Adalah Setengah dari Harga Diri!” Hari Itu hari Jum’at. Hari yang tepat untuk suatu kegiatan  yang mesti menguras energi hari itu: Ujian Praktikum Salah Satu Mata Kuliah di Departemen Akuakultur. Saya awali pagi itu dengan penuh optimisme, Bahwa ujian kali ini akan baik-baik saja. Terlepas dari persiapan yang memang seadanya. Penyebab optimisme hari ini sederhana saja, yaitu mentari yang cerah terbit di ufuk. Mentari melambangkan optimisme sebab ia hadir setelah gelap yang panjang. Ia muncul dengan hangatnya setelah malam yang begitu dingin. Mentari memang menginspirasi.