Langsung ke konten utama

Kau kah itu, Layla?

"Seandainya Bidadari Syurga itu menempakkan dirinya," Kata Sang Nabi dalam riwayat Anas Bin Malik,"Maka cahaya wajahnya akan berpendar meliputi ruang antara langit dan bumi dan kerudung rambutnya lebih elok dari dunia dan segala isinya"
ilustrasi:kalamku.wordpress.com

Kau kah itu, Layla?
Yang tertunduk penuh murung disitu
Yang sesekali melempar lirik penuh sendu
Apa itu, Layla?
Yang mengalir syahdu di ranum pipimu

Mengapa tidak segera kau seka?
Andai saja tanganku sampai tuk menyeka wajahmu
Layla, Adakah kau sepi?
Aku pun...
Tapi janganlah kau coba tuk turun
Duniaku penuh busuk, Layla!
Penuh bangkai!
Tetaplah disitu, Layla!
Jangan beranjak lagi!
Biar aku yang datang pada satu waktu
Jangan tanya kapan, Layla


Aku pun tak tahu
Siapkan saja air hangat
Barangkali aku kan datang membawa sembilu..

Kau masih disitu kan, Layla?

Untuk: laylaku, yang kini tengah termanggu di tepi telaga. Jannah.


Suatu sore, 21 Feb 2012
Pendaki Langit

Komentar

Anonim mengatakan…
haduh haduh layla....

adakah dirinya disana?
di pucuk rindu jajaka cirebon?

hahaha
Syubhan Triyatna mengatakan…
eits...
Tapi, terimaksih tanggapannya

Postingan populer dari blog ini

Orang-Orang Romantis

ilustrasi:fiksi.kompasiana.com Aku selalu kagum pada mereka: orang-orang romantis. Mereka selalu bekerja dengan sepenuh cinta. Dengan segenap kesadaran. Boleh jadi mereka berpeluh, tapi pantang mengeluh. Memang mereka lelah, tapi tak kenal patah. Dan sesekali mereka berhenti, untuk sekedar menyeka keringat. Untuk sekedar menutup luka. lalu dengan nanar mereka menengadah menatap langit. seketika itu mereka teringat akan tujuan mereka, Cita-cita dan mimpi-mimpi mereka. saat itulah kerinduan mereka mendayu-dayu. menyala-nyala. Tapi mereka tidak terbuai, setelah itu mereka segera menggulung kembali lengan bajunya untuk meneruskan langkah yang sempat tertunda..... Senja, 17 Januari 2012     Pendaki Langit

Adanya Genap, Tiadanya Ganjil

Kalau kita jeli memperhatikan sekeliling kita, kita akan mendapatkan fenomena unik. Bahwa ada orang-orang yang kehadirannya senantiasa dinanti dan kepergiannya di tangisi. Ada lagi golongan orang-orang yang kehadirannya malah dihindari dan kepergiannya justru disyukuri. Pun, ada juga orang-orang yang kehadiran atau ketiadaanya sama saja: adanya tidak menggenapkan, perginya tidak mengganjilkan.

Cinta, Bukan Untuk Canda

“Sebab bagi kami, para pemuda, Lidah Adalah Setengah dari Harga Diri!” Hari Itu hari Jum’at. Hari yang tepat untuk suatu kegiatan  yang mesti menguras energi hari itu: Ujian Praktikum Salah Satu Mata Kuliah di Departemen Akuakultur. Saya awali pagi itu dengan penuh optimisme, Bahwa ujian kali ini akan baik-baik saja. Terlepas dari persiapan yang memang seadanya. Penyebab optimisme hari ini sederhana saja, yaitu mentari yang cerah terbit di ufuk. Mentari melambangkan optimisme sebab ia hadir setelah gelap yang panjang. Ia muncul dengan hangatnya setelah malam yang begitu dingin. Mentari memang menginspirasi.