Langsung ke konten utama

Sayonara

*Buat yang telah dan tengah pergi
Tibalah jua akhirnya
Detik-detik melankolik itu:
Saat aku bagai terpaku terpaksa menatap punggungmu yang makin menjauh
Aku ingat betul
Kala langkah-langkah kecilmu yang ragu
Dan senyummu yang kaku
Untuk kali pertama kau datang tawarkan jabatmu
Kita lalu tumbuh bagai biji-biji
Mengecambah disirami tarbiyah
Meranting dipupuki dakwah
Dan nafas ukhuwah
Meniup kuncup kita mekar jadi bunga
Meski banyak yang jatuh dipukul hama
Kau akan pergi aku tahu
Mungkin tak lagi ada temu aku tahu
Akupun tak memintamu untuk mengenang setiap inchi
Aku hanya mohon tuk terakhir kali:
Pabila nanti tak kau temukan aku di nirwana
Carilah aku sampai ke palung neraka
Mungkin ku disitu
Ulur tangan dan senyum kakumu kutunggu
Serupa kali pertama kita bertemu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang-Orang Romantis

ilustrasi:fiksi.kompasiana.com Aku selalu kagum pada mereka: orang-orang romantis. Mereka selalu bekerja dengan sepenuh cinta. Dengan segenap kesadaran. Boleh jadi mereka berpeluh, tapi pantang mengeluh. Memang mereka lelah, tapi tak kenal patah. Dan sesekali mereka berhenti, untuk sekedar menyeka keringat. Untuk sekedar menutup luka. lalu dengan nanar mereka menengadah menatap langit. seketika itu mereka teringat akan tujuan mereka, Cita-cita dan mimpi-mimpi mereka. saat itulah kerinduan mereka mendayu-dayu. menyala-nyala. Tapi mereka tidak terbuai, setelah itu mereka segera menggulung kembali lengan bajunya untuk meneruskan langkah yang sempat tertunda..... Senja, 17 Januari 2012     Pendaki Langit

Adanya Genap, Tiadanya Ganjil

Kalau kita jeli memperhatikan sekeliling kita, kita akan mendapatkan fenomena unik. Bahwa ada orang-orang yang kehadirannya senantiasa dinanti dan kepergiannya di tangisi. Ada lagi golongan orang-orang yang kehadirannya malah dihindari dan kepergiannya justru disyukuri. Pun, ada juga orang-orang yang kehadiran atau ketiadaanya sama saja: adanya tidak menggenapkan, perginya tidak mengganjilkan.

Cinta, Bukan Untuk Canda

“Sebab bagi kami, para pemuda, Lidah Adalah Setengah dari Harga Diri!” Hari Itu hari Jum’at. Hari yang tepat untuk suatu kegiatan  yang mesti menguras energi hari itu: Ujian Praktikum Salah Satu Mata Kuliah di Departemen Akuakultur. Saya awali pagi itu dengan penuh optimisme, Bahwa ujian kali ini akan baik-baik saja. Terlepas dari persiapan yang memang seadanya. Penyebab optimisme hari ini sederhana saja, yaitu mentari yang cerah terbit di ufuk. Mentari melambangkan optimisme sebab ia hadir setelah gelap yang panjang. Ia muncul dengan hangatnya setelah malam yang begitu dingin. Mentari memang menginspirasi.