Langsung ke konten utama

Generasi Brengsek


Jika tulang yang tertimbun itu bisa bicara, entah apa yang akan kau kata
Atau mungkin kau akan memilih untuk berkaca-kaca pada mata
Kami memang generasi brengsek, kek...
Dulu kau bunuh takut
Kau bunuh ego akut
Kau tantang meriam
Kau terjang seribu peluru
Kau lupa lapar haus sembilu
Kau lupa nyawamu cuma satu
Tapi kau ingat hari depan cucu-cucumu
Kami memang generasi brengsek, kek...
Bahkan kami takut lalu berebut remah-remah kapitalis
Kami mengiba mengemis-ngemis pada mereka yang dulu kau usir dengan kepala tegap
Kami menunduk-nunduk doyong dijalanan post modern
Kami terbungkuk-bungkuk diantara gedung menjulang. Padahal dulu kau tegak di antara bayonet menerjang
Kami memang generasi brengsek, kek..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang-Orang Romantis

ilustrasi:fiksi.kompasiana.com Aku selalu kagum pada mereka: orang-orang romantis. Mereka selalu bekerja dengan sepenuh cinta. Dengan segenap kesadaran. Boleh jadi mereka berpeluh, tapi pantang mengeluh. Memang mereka lelah, tapi tak kenal patah. Dan sesekali mereka berhenti, untuk sekedar menyeka keringat. Untuk sekedar menutup luka. lalu dengan nanar mereka menengadah menatap langit. seketika itu mereka teringat akan tujuan mereka, Cita-cita dan mimpi-mimpi mereka. saat itulah kerinduan mereka mendayu-dayu. menyala-nyala. Tapi mereka tidak terbuai, setelah itu mereka segera menggulung kembali lengan bajunya untuk meneruskan langkah yang sempat tertunda..... Senja, 17 Januari 2012     Pendaki Langit

Cinta, Bukan Untuk Canda

“Sebab bagi kami, para pemuda, Lidah Adalah Setengah dari Harga Diri!” Hari Itu hari Jum’at. Hari yang tepat untuk suatu kegiatan  yang mesti menguras energi hari itu: Ujian Praktikum Salah Satu Mata Kuliah di Departemen Akuakultur. Saya awali pagi itu dengan penuh optimisme, Bahwa ujian kali ini akan baik-baik saja. Terlepas dari persiapan yang memang seadanya. Penyebab optimisme hari ini sederhana saja, yaitu mentari yang cerah terbit di ufuk. Mentari melambangkan optimisme sebab ia hadir setelah gelap yang panjang. Ia muncul dengan hangatnya setelah malam yang begitu dingin. Mentari memang menginspirasi.

Terimakasih, Bu Menkes....

Untuk Ibu Menteri Kesehatan, Ibu Dr. Nafsiah Mboi, SpA, M.P.H., Kami ucapkan terimakasih banyak, sebanyak(maaf) kondom yang Ibu bagi-bagi... Terimakasih, Bu menkes. Terimakasih karena telah ajarkan pada kami bahwa anak gadis boleh dinodai, asalkan pakai cara yang “hati-hati”... Terimakasih, Bu Menkes. Terimakasih sebab telah beritahu kami, termasuk anak remaja kami, cara dapatkan alat kontrasepsi tanpa harus susah-susah membeli... Terimakasih, Bu Menkes. Sekali lagi terimakasih atas kontribusi dan kerja kerasnya dalam meningkatkan angka prostitusi dalam negeri....